Konser Amal Karhutla Jangan Jadi Panggung Gimmick, Muchlis Safari Serukan Etika dan Saling Menghormati
GlobalKalteng.com | Palangka Raya –
Konser amal semestinya menjadi ruang untuk menumbuhkan solidaritas dan kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karena itu, setiap aksi di atas panggung dinilai perlu tetap berada dalam koridor etika dan penghormatan terhadap sesama.
Musisi senior Palangka Raya, Muchlis Safari, menyampaikan hal tersebut menyikapi aksi seorang pria yang menampilkan pakaian dalam wanita di tengah kegiatan konser amal penanganan karhutla di Kalimantan Tengah.
Menurut Muchlis, persoalan utama bukan sekadar soal aksi panggung, melainkan bagaimana setiap orang yang terlibat dalam pertunjukan mampu memahami batas antara kreativitas, hiburan dan tindakan yang berpotensi membuat pihak lain merasa tidak nyaman atau direndahkan.
“Menurut saya tindakan seperti itu sangat tidak pantas dan saya mengutuk keras. Apalagi ini kegiatan amal untuk membantu masyarakat yang terdampak karhutla. Panggung seharusnya menjadi tempat untuk berkarya, menghibur dan menyampaikan pesan positif, bukan tempat untuk melakukan tindakan yang merendahkan atau mempermalukan orang lain,” tegas Muchlis.
Ia menilai kegiatan musik, terlebih yang membawa misi sosial, membutuhkan kesadaran bersama dari seluruh pihak yang terlibat. Pengisi acara, penyelenggara maupun pihak lain yang berada di sekitar panggung perlu memahami batas-batas interaksi agar pertunjukan tetap berlangsung secara profesional.
Sorotan tersebut semakin kuat karena aksi itu terjadi ketika vokalis R.A.S.Y.A Band sedang tampil. Muchlis menilai penggunaan alasan gimmick tidak serta-merta dapat menjadi pembenaran apabila bentuk aksi tersebut tidak terlebih dahulu dikomunikasikan dan disepakati bersama.
“Kalau memang itu dianggap gimmick, tetap harus melihat situasi dan kondisi. Gimmick dalam pertunjukan seharusnya sudah dikomunikasikan dan disepakati bersama. Jangan sampai sesuatu yang dianggap lucu oleh seseorang justru membuat orang lain merasa dilecehkan atau direndahkan,” ujarnya.
Bagi Muchlis, penghormatan terhadap pengisi acara merupakan bagian penting dari profesionalisme dalam dunia pertunjukan. Terlebih, perempuan yang tampil di atas panggung memiliki hak yang sama untuk mendapatkan rasa aman, nyaman dan dihormati selama menjalankan pekerjaannya.
“Kita sebagai sesama musisi harus punya rasa saling menghargai. Apalagi perempuan yang tampil di atas panggung juga punya hak untuk merasa aman dan dihormati. Jangan karena ingin membuat suasana ramai, kemudian mengabaikan perasaan orang lain,” katanya.
Ia berharap kejadian tersebut menjadi evaluasi bersama bagi komunitas musik dan penyelenggara pertunjukan di Palangka Raya maupun Kalimantan Tengah. Menurutnya, koordinasi sebelum dan selama acara penting dilakukan agar setiap bentuk interaksi, spontanitas maupun gimmick panggung tidak keluar dari batas yang telah disepakati.
Muchlis juga mengingatkan bahwa konser amal memiliki pesan yang jauh lebih besar dibanding sekadar pertunjukan musik. Di tengah persoalan karhutla yang berdampak terhadap masyarakat, kegiatan tersebut seharusnya menjadi momentum memperkuat kepedulian dan solidaritas.
“Jangan sampai niat baik dari sebuah kegiatan amal justru ternoda oleh tindakan yang tidak menghargai orang lain. Mari kita sama-sama menjaga etika, menghormati sesama musisi dan menjadikan panggung sebagai ruang berkarya yang positif,” pungkasnya.
(Ftr/Red.GK) 2026

Tinggalkan Balasan