Kalteng Kaya Batu Bara, Tapi Listrik Masih Padam : DPRD Desak PLN Bangun Kemandirian Energi
GlobalKalteng.com | PALANGKA RAYA
Ironi energi di Kalimantan Tengah kembali menjadi sorotan. Di tengah statusnya sebagai salah satu daerah penghasil batu bara, pasokan listrik di provinsi ini justru masih dihantui pemadaman yang berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat hingga fasilitas pelayanan publik.
Sekretaris Komisi II DPRD Kalteng, Hero Harapano Mandouw, menilai kondisi tersebut tidak bisa terus dianggap sebagai persoalan teknis semata. Menurutnya, rangkaian pemadaman yang terjadi menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap ketahanan dan kemandirian sistem kelistrikan di Kalteng.
“Ya, tentu saja sangat disayangkan,” tegas Hero, Selasa, 28 Juli 2026.
Ia menilai ketergantungan terhadap sistem interkoneksi Barito yang melayani Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah perlu dievaluasi. Ketika terjadi gangguan pada sistem tersebut, dampaknya dapat meluas dan mengganggu berbagai sektor yang bergantung pada pasokan listrik secara kontinu.
Karena itu, Hero mendorong PT PLN (Persero) tidak hanya berkutat pada penanganan gangguan setelah pemadaman terjadi, tetapi mulai menyiapkan strategi jangka panjang untuk memperkuat pasokan energi dari dalam daerah.
Salah satu opsi yang menurutnya layak dikaji adalah pembangunan pembangkit mandiri dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam Kalteng, termasuk batu bara. Baginya, daerah penghasil energi semestinya memiliki sistem kelistrikan yang lebih tangguh dan tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari sistem eksternal.
“Nah, ini menjadi tantangan kita bersama. Dengan potensi SDA yang ada, apakah kita perlu membangun lagi PLTU atau apa, karena selama ini kita lebih banyak mengandalkan sistem interkoneksi,” ujarnya.
“Apakah di Kalteng sendiri PLN perlu memikirkan hal tersebut supaya kita punya pembangkit sendiri yang berbahan batu bara. Seperti apa nanti, itu menjadi pekerjaan rumah mereka,” sambungnya.
Sorotan Hero semakin menguat setelah pemadaman di Kabupaten Kapuas sempat berdampak terhadap rumah sakit. Padamnya listrik di fasilitas kesehatan dinilai bukan persoalan sederhana karena menyangkut pelayanan yang bersentuhan langsung dengan keselamatan dan kepentingan masyarakat.
“Apalagi kemarin di Kapuas, salah satunya sempat ramai di rumah sakit lampunya mati. Terlepas dari apa pun kesiapan teknis terhadap listrik mereka, tetapi semua itu akibat dari listrik PLN mati,” katanya.
Menurut Hero, keberadaan genset cadangan memang menjadi bagian dari kesiapan internal setiap fasilitas vital. Namun, kondisi tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan persoalan utama, yakni perlunya sistem kelistrikan PLN yang lebih andal dan memiliki tingkat ketahanan tinggi.
Ia menegaskan, masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan dampak ketika pemadaman terjadi secara berulang dan mendadak. Gangguan tersebut tidak hanya menghambat aktivitas rumah tangga, tetapi juga dapat mengganggu pelayanan pemerintahan, dunia usaha, fasilitas kesehatan hingga sektor ekonomi.
Karena itu, Hero meminta manajemen PLN memberikan jaminan dan langkah konkret agar pemadaman berskala luas tidak kembali terjadi. Menurutnya, Kalteng membutuhkan kepastian energi, bukan sekadar penjelasan setiap kali gangguan terjadi.
“Jangan sampai daerah yang memiliki sumber daya energi besar justru terus mengalami persoalan listrik. Ini harus menjadi perhatian serius untuk membangun sistem kelistrikan Kalteng yang lebih mandiri, kuat dan berkelanjutan,” tegasnya.
(FS)

Tinggalkan Balasan