Kabut Asap Mulai Kepung Palangka Raya, DPRD Desak Faskes Siaga Oksigen

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalimantan Tengah, Tomi Irawan (ist)

GlobalKalteng.com | PALANGKA RAYA

Kabut asap tipis mulai menyelimuti Kota Palangka Raya. Di tengah memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Pulang Pisau dan Palangka Raya, ancaman gangguan pernapasan kembali menjadi perhatian serius.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalimantan Tengah, Tomi Irawan, meminta pemerintah tidak menunggu kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) melonjak untuk mengambil langkah antisipasi. Menurutnya, kesiapan fasilitas kesehatan harus diperkuat sejak dini, termasuk memastikan ketersediaan oksigen darurat di setiap fasilitas pelayanan kesehatan.

Ia menilai puskesmas, klinik, hingga rumah sakit semestinya memiliki sedikitnya tabung oksigen portabel yang dapat digunakan sewaktu-waktu, terutama ketika terjadi serangan gangguan pernapasan secara tiba-tiba.

“Yang pastinya, walaupun tidak ada kejadian kabut asap ini ya, harusnya di setiap puskesmas, klinik, bahkan rumah sakit harus sudah sedia oksigen, paling tidak tabung oksigen portable yang kecil. Itu juga harus disiapkan,” ujar Tomi, Selasa, 28 Juli 2026.

Menurutnya, kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia perlu mendapat perhatian lebih karena paparan asap dapat memperburuk gangguan pernapasan, termasuk memicu kambuhnya asma.

Karena itu, Tomi juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh kondisi udara yang mulai dipenuhi asap. Warga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus keluar rumah.

“Jadi antisipasi pertama yang harus dilakukan, ya paling tidak untuk masyarakat, kalau tidak perlu jangan keluar dulu. Kalau keluar pun pakai masker,” katanya.

Selain perlindungan dari luar rumah, Tomi mendorong masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk mempertimbangkan penggunaan air purifier berukuran kecil di dalam rumah. Menurutnya, perangkat tersebut relatif mudah ditemukan di toko elektronik maupun platform penjualan daring dengan harga sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu.

Namun, kesiapsiagaan menghadapi kabut asap, kata dia, tidak boleh hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Instansi pemerintah dan tempat-tempat pelayanan publik juga dinilai perlu memiliki fasilitas pendukung untuk menghadapi kondisi darurat akibat penurunan kualitas udara.

“Syukur-syukur OPD atau tempat-tempat pelayanan publik juga menyiapkan itu,” imbuhnya.

Tomi menegaskan, pola cuaca ekstrem yang dapat berulang, termasuk pengaruh fenomena El Nino, membuat potensi karhutla dan kabut asap tidak selalu mudah diprediksi. Kondisi tersebut menuntut pemerintah maupun masyarakat memiliki langkah mitigasi sebelum dampaknya berkembang menjadi persoalan kesehatan yang lebih luas.

Bagi DPRD Kalteng, kesiapan fasilitas kesehatan bukan sekadar respons terhadap munculnya kabut asap, tetapi bagian dari sistem perlindungan masyarakat yang harus disiapkan sebelum kondisi memburuk.

Jangan tunggu ISPA melonjak. Ketika asap mulai datang, kesiapan layanan kesehatan harus sudah berada di garis depan.

(FS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini