Cegah Infeksi dari Dalam, RSDDS Perkuat Kompetensi Tenaga Kesehatan
GlobalKalteng.com | Palangka Raya
Keselamatan pasien tidak hanya ditentukan oleh ketepatan diagnosis dan tindakan medis, tetapi juga oleh seberapa kuat fasilitas kesehatan mencegah risiko infeksi. Berangkat dari kebutuhan tersebut, RSUD dr. Doris Sylvanus (RSDDS) memperkuat kompetensi tenaga kesehatan melalui Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) Dasar.
Pelatihan yang berlangsung selama empat hari, 8–11 September 2026, tersebut resmi dibuka Selasa (8/9/2026) di Aula 1A-1B Lantai II Gedung Pendidikan RSDDS. Sebanyak sekitar 30 peserta internal rumah sakit mengikuti kegiatan secara luring, terdiri atas 28 tenaga kesehatan dari unsur dokter, perawat dan bidan serta dua petugas dari unit CSSD dan laundry.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya rumah sakit memastikan prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi tidak berhenti pada tataran kebijakan, tetapi benar-benar menjadi kompetensi yang diterapkan dalam aktivitas pelayanan sehari-hari.
Plt. Direktur RSDDS, dr. Ferry Iriawan, MPH, menilai penguatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan PPI merupakan kebutuhan penting bagi rumah sakit yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Menurutnya, lingkungan pelayanan kesehatan memiliki potensi risiko penularan infeksi yang harus dikelola secara serius. Karena itu, peningkatan pemahaman dan keterampilan tenaga kesehatan menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga kualitas pelayanan sekaligus melindungi pasien maupun petugas.
“Pelayanan rumah sakit berhadapan langsung dengan publik, karena itu pelatihan ini penting untuk mencegah penyebaran infeksi yang dapat berpengaruh pada kualitas pelayanan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan, Mutu dan Pengembangan RSDDS, Maya Magdalena, S.KM, menegaskan bahwa keberhasilan program PPI tidak dapat dibebankan hanya kepada tim PPI.
Penerapan prinsip tersebut, kata dia, membutuhkan keterlibatan seluruh unsur rumah sakit. Setiap tenaga kesehatan dan petugas memiliki peran dalam membangun lingkungan pelayanan yang aman, bersih dan mampu meminimalkan risiko infeksi.
“Pelatihan ini diharapkan meningkatkan pemahaman dan kemampuan menerapkan prinsip PPI secara konsisten di unit masing-masing,” katanya.
Materi pelatihan disusun mencakup aspek fundamental hingga penerapan PPI dalam menghadapi berbagai risiko infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai Building Learning Commitment (BLC), antikorupsi, kebijakan PPI di fasilitas pelayanan kesehatan, epidemiologi Healthcare-Associated Infections (HAIs), penemuan kasus HAIs, mikrobiologi dan virologi dasar, kewaspadaan isolasi, Infection Control Risk Assessment (ICRA) PPI, surveilans HAIs, PPI melalui bundles HAIs, monitoring dan audit program PPI, hingga penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit infeksi airborne.
Rangkaian pembelajaran juga ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai bagian dari upaya mendorong penerapan pengetahuan yang diperoleh peserta di unit kerja masing-masing.
Tidak sekadar menerima materi, peserta juga diberikan ruang untuk berdiskusi dan mengajukan pertanyaan secara langsung kepada para narasumber yang memiliki kompetensi di bidangnya.
Melalui pelatihan tersebut, RSDDS berupaya memperkuat budaya keselamatan di lingkungan rumah sakit. Sebab, pencegahan infeksi pada akhirnya bukan hanya soal prosedur, melainkan bagian integral dari mutu pelayanan dan perlindungan bagi setiap pasien serta tenaga kesehatan.
(FS/Red.GK) 2026
