RSUD dr. DORIS SYLVANUS JUMPA PERS TERKAIT ATAS DUGAAN MALAPRAKTIK
GlobalKalteng.com,
PALANGKA RAYA – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Doris
Sylvanus menggelar Jumpa Pers terkait atas Dugaan Malapraktik, Jumpa Pers
tersebut digelar di RSUD dr. Doris Sylvanus Jalan Tambun Bungai No. 04 Kota
Palangka Raya, Jum’at (02/02/2024).
Terkait atas
dugaan malapraktik yang mengakibatkan meninggal dunianya bayi pasca operasi di
RSUD dr. Doris Sylvanus, pihak Rumah Sakit buka suara dan memberikan penjelasan
yang sebenarnya terjadi melalui dr. Devi
Novianti Santoso, SH., MH., Sp.KF, selaku Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan
Medik dan Keperawatan didampingi Hairil Anwar, SH Kepala Bidang Hukum
dan Humas di RSUD dr. Doris Sylvanus.
dr. Devi Novianti Santoso,
SH., MH., Sp.KF, selaku Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan Medik dan Keperawatan membantah atas
dugaan malapraktik terhadap bayi yang
meninggal pasca operasi di RSUD dr. Doris Sylvanus.
dr. Devi Novianti Santoso, SH., MH., Sp.KF mengatakan,
pihaknya RSUD dr. Doris Sylvanus selalu mengedepankan
SOP yang berlaku dan juga melakukan tindakan secara maksimal.
“Ia menjelaskan sekitar satu minggu yang lalu kita mendapati
adanya seorang bayi yang meninggal dunia pasca operasi di RSUD dr. Doris
Sylvanus. Dan untuk diketahui pasien bayi tersebut merupakan pasien rujukan
dari salah satu rumah sakit swasta yang ada di Kota Palangka Raya, dikarenakan
mereka tidak mampu untuk melakukan observasi serta tindakan lebih lanjut, maka
dari itu dirujuk lah ke RSUD dr. Doris Sylvanus,”
jelas dr. Devi Novianti Santoso, SH., MH., Sp.KF.
Lebih lanjut setibanya pasien di RSUD
dr. Doris Sylvanus, pasien langsung mendapatkan penanganan dan
pemeriksaan lengkap untuk diagnosa tahap awal terhadap penyakit yang diidap
oleh pasien bayi tersebut. Pasien bayi ini masuk pada tanggal 12 Januari
2024 melalui IGD RSUD dr. Doris Sylvanus.
Kemudian setelah itu dilakukan pemeriksaan penunjang secara
lengkap terkait dengan penyakit pasien bayi tersebut, sampai ditemukan kondisi bayi
yang memerlukan penanganan segera sambil menunggu keputusan keluarga yang saat
itu masih meminta waktu untuk berunding.
Pastinya kata dr. Devi Novianti Santoso,
SH., MH., Sp.KF, pihak RSUD dr. Doris Sylvanus
sudah memberikan pelayanan yang terbaik termasuk dilakukannya operasi terhadap
pasien tersebut atas persetujuan orang tua dengan menyertakan surat persetujuan
operasi yang ditandatangani oleh orang tua sebelum dilakukannya tindakan operasi.
Orang tua bayi sudah diberikan informasi dan sudah menandatangani
surat pernyataan serta surat persetujuan untuk dilakukan tindakan operasi. Informasi
apa saja penyakit bayi ini serta tindakan apa saja yang akan dilakukan dan
risiko yang mungkin terjadi sampai dengan kemungkinan terburuknya.
dr. Devi Novianti Santoso, SH., MH., Sp.KF juga
menjawab tudingan yang dilakukan oleh orang tua korban terkait kenapa diagnosa
sebelum operasi dan sesudah operasi berbeda.
“Ia juga menjelaskan hal ini bisa berbeda tentunya dalam dunia
medis. Dikarenakan sudah ada dilakukan tindakan lebih lanjut dan lebih dalam
setelah dilakukannya tindakan operasi, dan inipun dalam diagnosa awal pastinya
setelah operasi adanya muncul diagnosa lanjut pembanding terhadap penyakit apa
yang sebenarnya diidap oleh seorang pasien. Tentunya ini merupakan hal wajar
dikarenakan dinamisnya setiap tubuh manusia itu berbeda-beda setiap jam, menit
bahkan detik pun, karena apa, didalam tubuh kita itu bergerak terus aliran
darah kita,” jelas dr. Devi Novianti Santoso, SH., MH., Sp.KF .
Diagnosis yang berbeda itu terjadi, dikarenakan penyebab utamanya
ditemukan pada saat operasi, kelainan yang terjadi itu sebagai diagnosis post
operasinya. Dan perlu diketahui untuk masyarakat, bahwa pada kasus-kasus yang
terbilang gawat memerlukan operasi segera. Diagnosis operasi itu baru bisa
ditentukan secara pasti setelah tindakan operasi berdasarkan temuan hasil
operasinya. Pada bayi ini juga ditemukan kelainan bawaan dan infeksi yang
meluas.
Kemudian setelah kejadian
tersebut, pihak RSUD dr. Doris Sylvanus melakukan
koordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk ruangan tempat pasien bayi
dirawat dan Dokter penanggung jawab pelayanan, dari hasil koordinasi bahwa
tindakan yang dilakukan oleh RSUD dr. Doris Sylvanus sudah sesuai dengan
prosedur pelayanan medis dan sesuai dengan Standar Prosedur Operasional (SPO).
“Kami dari RSUD dr. Doris Sylvanus sangat
menyayangkan bahwa pihak keluarga tidak melaporkan atau menyampaikan langsung
ke kami terlebih dahulu karena pihak Rumah Sakit memiliki manajemen dengan
patokan standar operasionalnya, sehingga dapat meminta klarifikasi dari
dokternya,” jelas Wadir Pelayanan Medik dan
Keperawatan.
Dan kami sarankan agar keluarga bayi
menghubungi manajemen Rumah Sakit terlebih dahulu, mengingat ‘mungkin’ terjadi miskomunikasi
yang menyebabkan perbedaan presepsi, kalau keluarga bayi masih tidak puas pihak
Rumah Sakit siap bertanggung jawab dan akan membahas lebih lanjut.
Terkait tudingan dugaan malapraktik
RSUD dr. Doris Sylvanus sangat menyayangkan bahwa pemberitaan tersebut sudah
tersebar, dan pihak keluarga pasien bayi langsung menyampaikannya kepada media,
menurutnya, Rumah Sakit memiliki bagian manajemen yang secara pasti melakukan
investigasi atau merinci kejadian, terlepas dari benar atau salahnya suatu
tindakan.
dr. Devi
Novianti Santoso, SH., MH., Sp.KF menambahkan terkait adanya pelayanan yang
dianggap janggal seperti slang oksigen lepas, monitor jantung mati, dan perban
yang terlepas, dijelaskan bahwa masalah ini dapat terjadi karena perubahan
posisi atau faktor lain.
“Kenapa slang oksigen dan sejenisnya bisa lepas dikarenakan saat
pemindahan bayi, terutama saat disusui, dan hal tersebut bisa terjadi secara
spontan karena seperti yang diketahui pihak RSUD dr. Doris Sylvanus telah
melakukan pemeliharaan terhadap alat-alat medis dan sehingga minim kemungkinan terjadi
kerusakan,” tegasnya. (Fahri/Red)
