Hari Jadi ke-67 Barsel, Gubernur Agustiar Sabran Tegaskan Pembangunan Harus Hadir hingga Pedalaman
GlobalKalteng.com | BUNTOK
Peringatan Hari Jadi ke-67 Kabupaten Barito Selatan menjadi momentum bagi Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran untuk menegaskan kembali arah pembangunan daerah yang berpijak pada kebersamaan, kemandirian, serta keberpihakan terhadap masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Agustiar saat memimpin Upacara Peringatan Hari Jadi ke-67 Kabupaten Barito Selatan di Kantor Bupati Barito Selatan, Senin (21/09/2026).
Mengusung tema “Bekerja Bersama, Merangkul Semua”, peringatan hari jadi tidak hanya dimaknai sebagai agenda seremonial, tetapi sebagai momentum memperkuat kolaborasi seluruh elemen daerah agar pembangunan memberikan manfaat yang lebih luas.
Agustiar menekankan, kebersamaan merupakan fondasi penting dalam membangun Kalimantan Tengah yang maju, adil, dan sejahtera. Semangat tersebut, menurutnya, sejalan dengan filosofi Huma Betang yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Kalteng.
“Tidak ada kemajuan tanpa adanya kebersamaan. Huma Betang adalah rumah besar kita, yang bukan menghilangkan sekat perbedaan, tetapi menyatukan segala perbedaan,” tegas Agustiar.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Barito Selatan bersama seluruh elemen masyarakat memperkuat sinergi pembangunan. Pemerataan juga menjadi perhatian, sehingga kemajuan daerah tidak hanya dirasakan masyarakat di pusat perkotaan, tetapi menjangkau wilayah pedalaman.
Dorong Kemandirian Berbasis Potensi Lokal
Dalam momentum tersebut, Agustiar juga mendorong Barito Selatan memperkuat kemandirian daerah melalui pengembangan potensi lokal dan kearifan masyarakat.
Menurutnya, kekayaan sumber daya alam Kalimantan Tengah harus dikelola secara optimal dan berkelanjutan sehingga mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Penguatan UMKM dan produk lokal, pariwisata, ketahanan pangan hingga pelestarian budaya dinilai perlu menjadi bagian penting dari strategi pembangunan daerah.
“Daerah maju bukan hanya daerah yang mampu berdiri di atas kaki sendiri, tetapi juga tidak kehilangan jati diri,” ujarnya.
Pengembangan potensi lokal tersebut diharapkan tidak berhenti pada upaya menjaga identitas daerah. Lebih jauh, langkah tersebut harus mampu membuka ruang ekonomi baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus memperluas manfaat pembangunan.
KHBS dan Program Prioritas Nasional
Pada kesempatan itu, Gubernur juga meminta dukungan masyarakat Barito Selatan terhadap berbagai program pembangunan pemerintah, termasuk Kartu Huma Betang Sejahtera (KHBS).
Di Barito Selatan, program KHBS mencakup 12.209 keluarga penerima manfaat.
Agustiar menegaskan, program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas jangkauan pembangunan sekaligus memberikan dukungan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Selain program daerah, masyarakat Barito Selatan juga diajak mendukung berbagai program prioritas nasional dalam Asta Cita Presiden, di antaranya Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, Koperasi Merah Putih dan program prioritas lainnya.
Karhutla Jadi Perhatian Serius
Di tengah ancaman kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2026, persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut menjadi sorotan utama dalam amanat Gubernur.
Agustiar menyampaikan bahwa dalam beberapa pekan terakhir kejadian karhutla di sejumlah wilayah Kalteng meningkat dan mulai berdampak terhadap aktivitas masyarakat serta kualitas udara.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Barito Selatan telah menetapkan status tanggap darurat bencana karhutla.
Menurut Agustiar, kondisi tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, relawan, dunia usaha hingga masyarakat.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Perlu dukungan seluruh elemen, termasuk dunia usaha dan masyarakat,” katanya.
Perusahaan perkebunan, kehutanan, serta pemegang izin lainnya juga diminta menjalankan tanggung jawab secara maksimal dalam pencegahan maupun penanganan karhutla di wilayah kerja masing-masing.
Sementara masyarakat diimbau tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan, termasuk menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk serta menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggal.
Agustiar kembali mengingatkan agar pembukaan lahan dengan cara membakar tidak dilakukan.
Bukan Sekadar Memadamkan Api
Bagi Gubernur, penanganan karhutla tidak boleh berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Dampak yang dirasakan masyarakat juga harus menjadi bagian dari perhatian pemerintah.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Barito Selatan didorong menyiapkan berbagai kebutuhan penanganan dampak karhutla, termasuk Rumah Oksigen, masker, air bersih dan kebutuhan dasar masyarakat lainnya.
“Penanganan karhutla bukan soal pemadaman saja, tetapi juga penanganan dampak bagi masyarakat. Pemerintah harus hadir di tengah masyarakat,” tegasnya.
Pesan tersebut menempatkan perlindungan masyarakat sebagai bagian tak terpisahkan dari penanganan bencana. Ketika kualitas udara terganggu dan aktivitas warga terdampak, pemerintah dituntut memastikan kebutuhan dasar, kesehatan, serta keberlangsungan aktivitas masyarakat tetap mendapat perhatian.
Menutup amanatnya, Agustiar mengajak seluruh masyarakat Barito Selatan memperkuat gotong royong dan merapatkan barisan menghadapi ancaman karhutla.
“Mari kita rapatkan barisan, kita perkuat gotong royong, untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi karhutla di Kalteng. Ini tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya.
Upacara Hari Jadi ke-67 Kabupaten Barito Selatan tersebut turut dihadiri Bupati Barito Selatan Eddy Raya Samsuri beserta Ketua TP-PKK, Wakil Bupati Barito Selatan Khristianto Yudha beserta istri, pimpinan dan anggota DPRD, unsur Forkopimda Kabupaten Barito Selatan, para bupati/wali kota atau yang mewakili, sesepuh, serta tokoh masyarakat, adat, agama dan pemuda.
(Red.GK/Tim)
