Hadapi Karhutla, Gubernur Agustiar Sabran Rangkul Tokoh Lintas Agama Perkuat Persatuan dan Gerakan Kemanusiaan
GlobalKalteng.com || PALANGKA RAYA –
Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tidak hanya membutuhkan kesiapan personel dan sarana pemadaman, tetapi juga kekuatan solidaritas sosial serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Di tengah situasi tersebut, Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran merangkul tokoh lintas agama untuk memperkuat kebersamaan dan menyatukan langkah menghadapi bencana karhutla.
Upaya tersebut diwujudkan melalui silaturahmi dan doa bersama yang berlangsung di Istana Isen Mulang, Palangka Raya, Jumat (23/10/2026). Pertemuan ini menjadi ruang untuk mempererat komunikasi antara pemerintah daerah dan para pemuka agama sekaligus membangun dukungan bersama bagi penanganan karhutla di Bumi Tambun Bungai.
Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah, Linae Victoria Aden, dalam laporannya menegaskan bahwa menghadapi karhutla diperlukan sinergi yang menyeluruh. Selain langkah penanganan di lapangan, kepedulian sosial, kekuatan spiritual, serta partisipasi aktif masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam menghadapi situasi yang tengah berlangsung.
Menurutnya, tokoh agama memiliki peran strategis dalam membina umat, menanamkan nilai-nilai moral, serta menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat. Peran tersebut diharapkan mampu memperkuat kesadaran kolektif dan mendorong masyarakat untuk turut mengambil bagian dalam upaya menghadapi bencana.
“Dengan kebersamaan ini saya harapkan kita mampu melewati masa-masa sulit, khususnya menghadapi bencana karhutla saat ini. Nilai-nilai toleransi dan gotong royong harus terus kita junjung tinggi agar pembangunan daerah dapat berjalan dengan optimal,” ungkap Linae.
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Agustiar Sabran juga membuka ruang dialog bersama para tokoh lintas agama. Komunikasi terbuka ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk membangun kesamaan pandangan, memperkuat koordinasi, serta mendorong kontribusi berbagai unsur masyarakat dalam menghadapi dampak karhutla.
Para tokoh agama yang hadir menyambut baik pertemuan tersebut dan menyatakan kesiapan untuk bersinergi dengan pemerintah dalam mendukung penanggulangan karhutla di Kalimantan Tengah.
Dukungan lintas agama diharapkan tidak berhenti pada doa bersama, tetapi juga menjadi penguat pesan-pesan kemanusiaan, kepedulian terhadap lingkungan, dan solidaritas sosial di tengah masyarakat. Dengan demikian, semangat kebersamaan dapat tumbuh menjadi kekuatan untuk menghadapi tantangan yang berdampak pada kehidupan warga.
Lebih dari sekadar agenda silaturahmi, pertemuan ini menegaskan pentingnya merawat persaudaraan di tengah situasi sulit. Falsafah Huma Betang yang menjunjung tinggi kebersamaan, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan kembali menjadi landasan dalam menyatukan masyarakat Kalimantan Tengah.
Di tengah ancaman karhutla, persatuan menjadi modal sosial yang penting. Kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat ikhtiar bersama agar penanganan bencana berjalan lebih optimal, kerukunan tetap terjaga, dan Kalimantan Tengah dapat melewati masa sulit dengan semangat gotong royong.
(FS/Red.GK) 2026
