Digitalisasi Pendidikan Kalteng Didorong Jadi Strategi Utama Pangkas Kesenjangan Sekolah

Anggota DPRD Kalteng, Wengga Febri Dwi Tananda

GlobalKalteng.com | PALANGKA RAYA

Transformasi digital dinilai menjadi salah satu kunci untuk mempersempit kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedalaman di Kalimantan Tengah (Kalteng). Karena itu, penguatan digitalisasi pembelajaran didorong tidak berhenti pada penyediaan perangkat, tetapi harus menjadi bagian dari strategi pendidikan daerah secara berkelanjutan.

Anggota Komisi III DPRD Kalteng, Wengga Febri Dwi Tananda, mengatakan percepatan teknologi telah mengubah kebutuhan dunia pendidikan. Sekolah dan tenaga pendidik, menurutnya, harus mampu beradaptasi agar proses pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Pemanfaatan teknologi dalam proses belajar mengajar merupakan langkah strategis untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan mampu bersaing di era digital,” kata Wengga, belum lama ini.

Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kalteng tersebut menilai digitalisasi pembelajaran kini telah bergeser dari sekadar inovasi menjadi kebutuhan. Terlebih, karakter geografis Kalteng membuat pemerataan akses pendidikan berkualitas masih menjadi tantangan tersendiri.

“Digitalisasi pembelajaran bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan yang harus segera diimplementasikan secara menyeluruh. Dengan dukungan teknologi yang memadai, akses terhadap pendidikan berkualitas akan semakin terbuka bagi seluruh peserta didik, termasuk di daerah terpencil,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, Wengga mengapresiasi Program Pendidikan Huma Betang yang digagas Gubernur Kalteng H. Agustiar Sabran. Ia menilai program tersebut memiliki relevansi kuat dengan agenda pemerataan pendidikan, terutama melalui pemanfaatan teknologi untuk menjembatani keterbatasan layanan pendidikan di wilayah pedalaman.

“Saya mengapresiasi Program Pendidikan Huma Betang sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui transformasi digital. Program ini diharapkan mampu mengurangi kesenjangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedalaman,” katanya.

Namun, Wengga mengingatkan bahwa keberhasilan transformasi digital pendidikan tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur. Ketersediaan jaringan internet, perangkat pembelajaran, serta kemampuan guru dalam mengoperasikan dan memanfaatkan teknologi harus berjalan beriringan.

Menurutnya, peningkatan kompetensi tenaga pendidik menjadi faktor penting agar teknologi benar-benar memberikan dampak terhadap kualitas pembelajaran, bukan sekadar menjadi fasilitas tambahan di sekolah.

“Selain penyediaan infrastruktur internet dan perangkat pendukung, peningkatan kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi juga menjadi faktor penting agar proses pembelajaran berjalan lebih efektif dan inovatif,” jelasnya.

Ia pun mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, satuan pendidikan, tenaga pendidik, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi tersebut diperlukan agar transformasi digital tidak menciptakan kesenjangan baru akibat perbedaan akses dan kemampuan antardaerah.

Wengga berharap kebijakan digitalisasi pendidikan Kalteng diarahkan pada hasil yang lebih substantif, yakni membuka akses pembelajaran yang setara sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Transformasi digital di sektor pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi muda Kalimantan Tengah yang unggul, adaptif, serta siap menghadapi tantangan masa depan,” tandasnya.

(FS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Exit mobile version