Bank Kalteng Dituntut Tak Sekadar Besar Modal, tapi Mampu Gerakkan Ekonomi Daerah
GlobalKalteng.com | PALANGKA RAYA
Penguatan permodalan Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah (Bank Kalteng) dinilai harus berbanding lurus dengan peningkatan kontribusinya terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Penyertaan modal pemerintah daerah tidak boleh berhenti sebagai tambahan kekuatan finansial, tetapi harus dikonversi menjadi manfaat ekonomi yang nyata.
Anggota DPRD Kalimantan Tengah, Purdiono, mendorong Bank Kalteng lebih agresif mengembangkan lini bisnis dan memperluas layanan pembiayaan, terutama pada sektor-sektor produktif yang memiliki dampak langsung terhadap masyarakat.
Menurutnya, dukungan pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota sebagai pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) harus dibalas dengan kinerja yang semakin kuat, inovasi bisnis, serta kemampuan membaca peluang ekonomi daerah.
“Harapan kita Bank Kalteng lebih maju dan bisa mengembangkan bisnis-bisnis yang lain, sehingga uang daerah yang disertakan oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota berdampak pada kesejahteraan masyarakat Kalimantan Tengah,” ujar Purdiono di Palangka Raya, Senin, 20 Juli 2026.
Legislator Partai Golkar itu menilai, posisi Bank Kalteng sebagai bank milik daerah memiliki tanggung jawab strategis yang lebih luas dibanding sekadar menjalankan fungsi intermediasi perbankan. Bank daerah harus mampu menjadi instrumen pembangunan dengan memperkuat akses pembiayaan bagi pelaku usaha dan menggerakkan aktivitas ekonomi di berbagai wilayah.
Purdiono juga memastikan DPRD Kalteng memberikan dukungan terhadap upaya Bank Kalteng meningkatkan kapasitas dan daya saingnya di tengah persaingan industri perbankan yang semakin dinamis.
“Kita mendukung Bank Kalteng lebih maju dan lebih meningkat lagi. Seperti diketahui, Bank Kalteng sudah mempunyai modal sesuai ketetapan OJK dan ke depan akan lebih berkembang lagi,” katanya.
Dengan fondasi permodalan yang semakin kuat, ia berharap ekspansi bisnis Bank Kalteng diarahkan pada pembiayaan sektor produktif, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di saat yang sama, peningkatan kualitas pelayanan hingga ke wilayah pelosok juga dinilai penting agar manfaat keberadaan bank milik daerah dapat dirasakan lebih merata.
Purdiono menegaskan, keberhasilan Bank Kalteng pada akhirnya tidak cukup diukur dari pertumbuhan aset maupun permodalan. Ukuran yang lebih substantif adalah sejauh mana bank tersebut mampu mengalirkan pembiayaan ke sektor riil, memperkuat ekonomi masyarakat, meningkatkan aktivitas usaha, dan memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah.
“Optimalisasi peran Bank Kalteng harus memberikan dampak yang luas bagi masyarakat. Bank daerah harus benar-benar menjadi bagian dari mesin penggerak pembangunan dan kesejahteraan Kalimantan Tengah,” pungkasnya.
(FS)
