Generasi Muda Dayak Diminta Jadikan Teknologi sebagai Benteng Budaya
PALANGKA RAYA – Arus modernisasi dan derasnya perkembangan teknologi dinilai tidak boleh membuat generasi muda Dayak kehilangan pijakan terhadap akar budayanya. Justru, kemajuan digital harus diarahkan menjadi ruang baru untuk menjaga sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Dayak kepada generasi yang lebih luas.
Anggota DPRD Kalimantan Tengah, Faridawaty Darland Atjeh, menegaskan bahwa keberlangsungan budaya Dayak sangat bergantung pada kemampuan generasi muda dalam merawat warisan leluhur sekaligus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pelestari budaya, tetapi juga harus tampil sebagai inovator yang mampu mengemas nilai-nilai tradisi agar tetap relevan di tengah kehidupan modern.
“Generasi muda Dayak harus menjadi penjaga sekaligus inovator budaya. Modernitas bukan alasan untuk meninggalkan akar,” ucap Faridawaty, Kamis (6/8/2026).
Ia menilai transformasi digital membuka peluang besar bagi pelestarian budaya. Media sosial, platform digital, konten kreatif, hingga berbagai kegiatan seni dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengenalkan bahasa, kesenian, adat istiadat, serta nilai-nilai luhur masyarakat Dayak kepada publik.
Dengan pendekatan tersebut, budaya tidak hanya ditempatkan sebagai warisan masa lalu, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari kehidupan generasi masa kini.
Faridawaty mengingatkan, tantangan pelestarian budaya saat ini bukan semata-mata datang dari pengaruh budaya asing. Persoalan yang tak kalah serius adalah melemahnya kepedulian generasi muda terhadap budaya sendiri ketika pengenalan dan pembiasaan tidak dilakukan sejak dini.
Karena itu, menurutnya, kesadaran budaya perlu dibangun secara bersama-sama melalui keluarga, lingkungan pendidikan, komunitas adat, pemerintah, hingga ruang-ruang kreativitas anak muda.
“Kesadaran budaya di kalangan pemuda harus dibangun secara kolektif agar tidak tenggelam oleh derasnya pengaruh globalisasi yang merambah ke berbagai aspek kehidupan,” tegasnya.
Ia berharap generasi muda Dayak mampu menjadikan teknologi bukan sebagai ancaman bagi identitas budaya, melainkan sebagai alat untuk membawa budaya Dayak menembus batas daerah dan dikenal lebih luas, tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasinya.
(FS)

Tinggalkan Balasan