Dispusip Kapuas Tembus Terbaik se-Kalteng, Inovasi Literasi hingga Lapas Tuai Apresiasi DPRD
GlobalKalteng.com | PALANGKA RAYA
Inovasi layanan literasi di Kabupaten Kapuas dinilai mampu menjawab tantangan rendahnya minat baca di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat. Terobosan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kapuas, termasuk mendekatkan buku hingga ke balik jeruji lapas, mendapat apresiasi dari DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng).
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalteng, Tomi Irawan Diran, menyampaikan apresiasi tersebut setelah melakukan kunjungan kerja bersama rombongan ke Dispusip Kabupaten Kapuas. Kunjungan itu menjadi momentum untuk melihat secara langsung kualitas pelayanan, fasilitas, serta inovasi yang dikembangkan pemerintah daerah dalam memperkuat budaya literasi.
Menurut Tomi, keberhasilan membangun budaya baca tidak cukup hanya dengan menyediakan gedung perpustakaan. Layanan literasi harus mampu bergerak mendekati masyarakat dan menjangkau kelompok yang selama ini sulit mengakses bahan bacaan.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian DPRD Kalteng ialah layanan perpustakaan keliling yang menyasar warga binaan di lembaga pemasyarakatan. Buku didistribusikan menggunakan gerobak dan dibawa langsung ke sel-sel agar para penghuni lapas tetap memiliki akses terhadap bahan bacaan.
“Saya lihat kemarin memang di Kapuas itu bagus. Mereka juga memaparkan ada layanan ke lapas menggunakan gerobak untuk membawa buku dan dipinjamkan ke sel-sel,” ujar Tomi, Selasa, 28 Juli 2026.
Tak hanya dari sisi layanan, Dispusip Kapuas juga dinilai unggul dalam membangun ekosistem literasi yang nyaman dan terbuka bagi masyarakat. Tomi menyebut kawasan perpustakaan memiliki sejumlah fasilitas pendukung, mulai dari rumah betang, halaman untuk aktivitas olahraga, panggung kegiatan, hingga ruang perpustakaan.
Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa perpustakaan kini tidak lagi sebatas tempat menyimpan dan membaca buku, tetapi dapat dikembangkan sebagai ruang publik untuk belajar, berkreasi dan berkegiatan.
“Dari awal kita datang sampai melihat suasananya memang sudah mendukung. Ada rumah betang, halaman untuk olahraga, ada panggung, dan tentunya ada perpustakaan,” katanya.
Tomi juga mengapresiasi capaian Dispusip Kapuas yang berhasil menjadi yang terbaik se-Kalteng di bidangnya. Prestasi tersebut dinilai semakin memperkuat posisi Kapuas sebagai salah satu daerah yang serius membangun budaya literasi.
Di tengah perubahan perilaku membaca akibat masifnya penggunaan gawai, Tomi menilai digitalisasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Ia mengakui fasilitas perpustakaan di sejumlah daerah masih belum sepenuhnya menyamai perkembangan di Pulau Jawa. Namun, langkah Dispusip Kapuas beradaptasi dengan teknologi dinilai menjadi arah yang tepat.
“Yang pasti mereka di Kapuas sudah memasuki digitalisasi. Peminat baca sekarang hampir rata-rata anak-anak kita menggunakan HP. Itu juga kita tanyakan, mereka menyediakan layanan tersebut dan melakukan berbagai kegiatan untuk menarik minat baca,” jelasnya.
Bagi DPRD Kalteng, pengalaman Kapuas tersebut dapat menjadi contoh bahwa penguatan literasi membutuhkan inovasi, teknologi sekaligus keberanian memperluas jangkauan layanan. Perpustakaan tidak cukup menunggu masyarakat datang, tetapi harus aktif hadir di tengah perubahan zaman dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Langkah tersebut dinilai penting agar budaya membaca tidak berhenti sebagai program administratif, melainkan berkembang menjadi gerakan literasi yang benar-benar hidup dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
(FS)

Tinggalkan Balasan