Hangat di Tengah Sederhana : Kisah Kebersamaan IPJI Kalteng Menyambut Idul Fitri
GlobalKalteng.com // Palangka Raya – Pagi itu terasa biasa saja. Langit teduh, angin bergerak pelan, dan aktivitas di sebuah sekretariat kecil berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Namun di balik kesederhanaan itu, ada sesuatu yang berbeda sesuatu yang tak kasat mata, tetapi begitu terasa : kehangatan kebersamaan.
Di Sekretariat Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI) Kalimantan Tengah, menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah, sejumlah anggota mulai berdatangan. Mereka tidak sekadar hadir, tetapi membawa cerita, tawa, dan rasa kekeluargaan yang telah lama terjalin.
Tak ada panggung megah. Tak ada seremoni berlebihan. Hanya sebuah meja kecil, beberapa kursi, dan paket-paket parcel yang tersusun rapi. Namun justru di situlah letak maknanya sederhana, tetapi tulus.
Saat Ketua DPW IPJI Kalimantan Tengah Pickrol Hidayad menjabat tangan Sekretaris Yolla Veronika, suasana seolah berhenti sejenak. Jabat tangan itu bukan sekadar simbol penyerahan bingkisan. Ia adalah representasi dari kepercayaan, kepedulian, dan perjalanan panjang sebuah organisasi dalam menjaga kebersamaan.
Di sudut ruangan, senyum-senyum kecil bermunculan. Ada yang berbincang santai, ada yang sekadar memperhatikan, namun semua larut dalam suasana yang sama hangat, akrab, dan penuh makna.
“Ini bukan tentang apa yang kita beri, tapi tentang bagaimana kita saling hadir,” ungkap Hidayad dengan nada tenang, namun sarat makna.
Bagi sebagian orang, parcel mungkin hanyalah bingkisan biasa. Tetapi bagi mereka yang menerimanya hari itu, ada rasa yang tak bisa dibungkus: rasa diperhatikan, dihargai, dan diingat sebagai bagian dari keluarga besar.
Ahmad, salah satu anggota yang menerima parcel, mengungkapkan rasa harunya. Ia mengaku, perhatian kecil seperti ini justru memiliki arti besar di tengah rutinitas yang padat.
“Jujur, kami merasa sangat dihargai. Bukan karena isi parcelnya, tapi karena perhatian dari organisasi. Ini yang membuat kami tetap solid dan merasa punya keluarga di sini,” ujar Ahmad.
Ia menambahkan, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan tidak boleh dianggap sepele.
“Momentum seperti ini yang membuat kita semakin dekat. Kadang yang kita butuhkan bukan bantuan besar, tapi rasa kebersamaan seperti ini,” lanjutnya.
Di tengah dunia jurnalistik yang kerap keras dan penuh tekanan, momen seperti ini menjadi ruang jeda tempat di mana para penulis dan jurnalis kembali diingatkan bahwa mereka tidak berjalan sendiri.
Dan mungkin, di situlah inti dari semuanya.
Kegiatan berbagi ini bukan sekadar rutinitas menjelang hari besar. Ia adalah pengingat bahwa solidaritas tidak dibangun dalam satu hari, melainkan dirawat melalui perhatian-perhatian kecil yang dilakukan dengan tulus.
Menjelang hari kemenangan, dari sebuah sekretariat sederhana di Palangka Raya, Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia Kalimantan Tengah mengajarkan satu hal penting: bahwa kebersamaan adalah kekuatan, dan kepedulian adalah bahasa yang selalu dimengerti oleh semua orang.
Dan ketika hari raya benar-benar tiba, mungkin yang paling diingat bukanlah apa yang diterima melainkan siapa yang hadir dan tetap bersama.
(Red.GK) 2026

Tinggalkan Balasan